Saturday, November 21, 2015

Definisi menulis dan cara asik menulis

Standard
2.1.1                         Menulis merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam seluruh proses belajar yang dialami murid selama menuntut ilmu di sekolah. Menulis merupakan suatu kegiatan untuk menciptakan catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara (Wikipedia Indonesia, 2006) yang tersedia dalam http://id.wikipedia.org.
Menambahkan dari Wikipedia di atas, (Dawson, dkk. dalam Nurchasanah, 1997:68) menulis memerlukan keterampilan karena diperlukan latihan-latihan yang berkelanjutan dan terus-menerus. Secara garis besar, menulis adalah bentuk dari komunikasi yang membutuhkan keterampilan agar menghasilkan tulisan yang baik.
Menurut Johana Pantow, dkk. (2002) yang tersedia dalam http://digilib.itb.ac.id mengatakan bahwa menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang harus dimiliki oleh orang yang menggunakan bahasa atau yang mempelajari suatu bahasa. Dengan menulis seorang anak dapat membenamkan diri ke dalam proses kreatif, yakni anak dapat menciptakan sesuatu yang juga berarti melontarkan pertanyaan-pertanyaan, mengalami keraguan dan kebingungan , sampai akhirnya menemukan pemecahan (Yanti, 2007) yang tersedia dalam http://www.sabda.org.
Mendukung pendapat di atas, (Putra, 2008:3) berpendapat bahwa, menulis adalah aktivitas menyusun atau merangkai kata, frasa, kalimat dan alinea serta dimensi-dimensi lainnya sehingga menjadi satu kesatuan yang padu dan utuh sebagai sebuah tulisan/narasi, hasilnya disebut tulisan (baca: karya tulis) dan orangnya disebut penulis. Arief Suwandi (2007:2) pun mengamini definisi tentang menulis tersebut. Hal ini dapan dilihat dari pendapatnya bahwa menulis adalah proses membuat pendapat (seseorang) tersebut dalam bentuk tulisan.
Berbeda dengan pendapat Putra, (Lado,1979:143) mengatakan bahwa, menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakanuntuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain.
Tujuan yang diharapkan dalam pembelajaran menulis adalah agar murid mampu mengungkapkan gagasan, pendapat, pengetahuan secara tertulis serta memiliki kegemaran menulis (Depdikbud, 1997).
Yanti (2007) http://www.sabda.org, menyebutkan bahwa dengan kegiatan menulis anak dapat memperoleh manfaat, antara lain :
·         Anak dapat menyatakan perasaannya tentang apa yang dialami dalam bentuk tulisan.
·         Anak dapat menyatukan pikiran ketika menuangkan ide dengan kata-kata.
·         Anak dapat menunjukkn kasih kepada sesama, misalnya dengan menulis surat ucapan terimakasih atau ulang tahun kepada orang tua, teman, bahkan guru.
·         Anak dapat meningkatkan daya ingat dengan cara membuat dan menulis informasi tentang sesuatu.

Senada dengan Yanti, Hairston mengungkapkan ada beberapa alasan yang jauh lebih penting dari manfaat menulis.
Kegiatan menulis adalah sarana untuk menemukan sesuatu. Dengan menulis kita dapat merangsang pemikiran kita.Kegiatan menulis dapat memunculkan ide baru.Kegiatan menulis dapat melatih kemampuan mengorganisasi dan menjernihkan berbagai konsep ide yang kita miliki.Kegiatan menulis dapat melatih sikap obyektif yanag ada pada diri seseorang.Kegiatan menulis dapat membantu diri kita untuk menyerap dan memproses informasi.Kegiatan menulis akan memungkinkan kita untuk berlatih memecahkan beberapa masalah sekaligus.Kegiatan menulis adalam suatu bidang ilmu akan memungkinkan kita untuk menjadi aktif dan tidak hanya menjadi penerima informasi Hairston (dalam Darmadi (1996:3),


Dari pendapat para ahli di atas, dapat penulis simpulkan bahwa menulis adalah kegiatan merangkai kata menjadi kalimat yang memerlukan latihan berkelanjutan agar mendapatkan tulisan yang baik. 

Friday, November 20, 2015

Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT

Standard
1.    Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT
Pembelajaran di sekolah dasar sebagian besar dilaksanakan dengan sistem pembelajaran berpusat pada guru, jarang yang menggunakan model pembelajaran yang bervariasi sehingga siswa tidak aktif dan cepat bosan dalam mengikuti pembelajaran. Model kooperatif tipe NHT adalah salah satu model pembelajaran yang mampu meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa (Salafudin 2008).
NHT adalah jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional. Depdiknas (2005:10) mengatakan ada dua implikasi utama teori vigotsky dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, yaitu; pertama adalah dikehendakinya susunan kelas berbentuk pembelajaran kooperatif antar siswa, sehingga siswa dapat berinteraksi di sekitar tugas-tugas yang sulit dan saling memunculkan strategi-strategi pemecahan masalah yang efektif, kedua dalam pengajaran menekankan scaffolding dengan siswa semakin lama semakin bertanggung jawab terhadap pembelajaran sendiri. Dengan demikian, model NHT efektif untuk diterapkan dalam pembelajaran IPA di sekolah dasar.
a.    Pengertian NHT
Menurut Tatar dan Oktay (2008:67) belajar dalam kelompok kecil semakin digunakan dalam pembelajaran semakin membantu siswa memenuhi berbagai hasil pembelajaran. Keberhasilan pembelajaran itu tidak hanya tergantung dari faktor kognitif saja tetapi juga dari faktor keaktifan atau aktivitas siswa dalam diskusi kelompok (Jacobs dan Hannah 2004:104).
b.    Kelebihan dan Kelemahan NHT
Menurut Hermana (2010:45-46) model koopeartif tipe NHT memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan dari NHT adalah setiap siswa menjadi siap semua, siswa dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh, dan siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai. Kelemahan model NHT adalah kemungkinan nomor yang dipanggil, dipanggil lagi oleh guru dan tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru. Kelemahan tersebut dapat diperbaiki dengan cara mengundi nomor yang akan mempresentasikan hasil diskusi, dengan demikian nomor yang sudah dipanggil tidak akan dipanggil lagi oleh guru.
c.    Langkah-langkah Pembelajaran model NHT
Trianto (2010:82-83) mengemukakan langkah-langkah pembelajaran model kooperatif tipe NHT menggunakan struktur empat fase, yaitu sebagai berikut: 
1)     Fase 1: Penomoran
Fase ini siswa dibagi dalam kelompok dan setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
2)     Fase 2: Mengajukan pertanyaan
Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan dapat bervariasi. Pertanyaan dapat amat spesifik dan dalam bentuk kalimat tanya.
3)     Fase 3: Berpikir bersama
Siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban tim.
4)     Fase 4: Menjawab
Guru memanggil suatu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas atau melaporkan hasil kerjasama tim kepada seluruh kelas.
2.    Lesson Study (LS)
a.    Pengertian LS
LS yaitu suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar (Rusman 2010:380). Hal itu sesuai pendapat Vicki R. Lind (2007:3) pembelajaran profesional harus melibatkan kolaborasi antar guru untuk berbagi keahlian mereka satu sama lain. Secara berkelompok guru berbagi ide spesifik tentang pengajaran dibidangnya. Mereka bekerjasama untuk merancang perangkat pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan merefleksi hasil pembelajaran (Vicki R. Lind 2007:5).
Setelah kelompok merancang perangkat pembelajaran, guru dalam kelompok menunjuk satu guru untuk mengajar di kelas kemudian guru lain mengamati proses pembelajaran dan aktivitas siswa. Setiap pengamat mengamati satu pengamatan kemudian setelah pembelajaran selesai para guru dalam kelompok bertemu dan membahas pembelajaran yang telah dilaksanakan kemudian perangkat direvisi dan disempurnakan berdasarkan pengamatan.
b.    Manfaat LS
Rusman (2010:385) mengatakan manfaat LS adalah: (1) guru dapat mendokumentasikan kemajuan kinerjanya, (2) guru dapat memperoleh feedback dari teman sejawatnya, (3) guru dapat memublikasikan dan menyebarluaskan hasil akhir dari LS yang telah dilakukannya.
Cerbin dan Kopp (2006:254) mengatakan LS dapat meningkatkan (1) pengetahuan tentang materi pelajaran, (2) pengetahuan tentang instruksi, (3) kemampuan untuk mengamati siswa, (4) penguatan kolegalitas, (5) koneksi yang kuat untuk jangka panjang, (6) motivasi dan rasa keberhasilan, serta (7) kualitas rencana pelajaran yang tersedia. Selain itu LS juga dapat meningkatkan pengajaran dan pembelajaran serta dapat mengatasi hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran (Wang-Iverson 2005:284).
c.    Pelaksanaan LS
Implementasi LS yang dilakukan oleh IMSTEP-JICA di Indonesia, Saito dkk (2005) mengenalkan LS yang berorientasi pada praktik. LS yang dilaksanakan tersebut terdiri atas 3 tahap pokok, yakni:
1) Merencanakan pembelajaran dengan penggalian akademis pada topik dan alat-alat pembelajaran yang digunakan, yang selanjutnya disebut tahap Plan.
2) Melaksanakan pembelajaran yang mengacu pada rencana pembelajaran dan alat-alat yang disediakan, serta mengundang rekan-rekan sejawat untuk mengamati. Kegiatan ini disebut tahap Do.

3) Melaksanakan refleksi melalui berbagai pendapat dan diskusi bersama pengamat atau observer. Kegiatan ini disebut tahap See.

Jenis-jenis model pembelajaran kooperatif

Standard
a.    Model Pembelajaran Kooperatif
Model yang diterapkan dalam pembelajaran kooperatif, antara lain:
1)     Model STAD
Siswa dikelompokkan secara heterogen kemudian siswa yang pandai menjelaskan anggota lain sampai mengerti.
2)     Model NHT
Model ini dikembangkan dengan memberikan tanggung jawab pribadi pada kelompok untuk menyampaikan hasil pembahasan kelompok. Pemberian nomor pada siswa diharapkan dapat menjadikan siswa siap sewaktu-waktu.
3)     Model Jigsaw
Model ini dasarnya adalah pengembangan dari teknik memberikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi dengan teman-teman yang lain, mengajarkan serta diajar oleh sesama siswa.
4)     Model GI
Model ini memberikan materi tugas atau materi yang berbeda pada setiap kelompok dan kelompok membahas serta menemukan dengan berbagai pengalaman, selanjutnya melewati juru bicara kelompok menyampaikan hasil pembahasan kelompok.
5)     Model Mind Mapping

Dikembangkan dengan memberikan kompetensi terhadap permasalahan yang memiliki alternatif jawaban. Alternatif jawaban ini digunakan untuk menginventarisasi bahasa.

Hasil Belajar

Standard
Hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku sebagai akibat dari proses belajar. Hasil belajar juga dapat diartikan sebagai kemampuan aktual yang diukur secara langsung. Hasil pengukuran belajar inilah akhirnya akan mengetahui seberapa jauh tujuan pendidikan dan pengajaran yang telah dicapai.
       
   Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar digunakan oleh guru untuk dijadikan ukuran atau kriteria dalam mencapai suatu tujuan pendidikan.

a. Ranah Kognitif
Ranah kognitif adalah kemampuan intelektual siswa dalam berpikir, mengetahui, dan memecahkan masalah. Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 aspek yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan penilaian.
b. Ranah Afektif
Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah Afektif berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri. .
c. Ranah Psikomotor
Ranah psikomotorik adalah kemampuan yang menyangkut kegiatan otot dan fisik. Ranah psikomotorik meliputi keterampilan motorik, manipulasi benda-benda, koordinasi neuromuscular (menghubungkan dan  mengamati).
2.    Pembelajaran Kooperatif
a.    Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah gabungan dari teknik instruksional dengan filsafat mengajar yang mendorong siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan dirinya sendiri dalam belajar dan belajar dengan kawan sebaya (Killen 1998:82). Rusman (2010:203) mengatakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirimuskan.
Berkat pembelajaran kooperatif siswa dapat berbagi pendapat dengan teman satu kelompok, menghormati ide-ide lain, menganalisis hasil, dan membuat keputusan (Tatar dan Oktay 2008:68). Park dan Kim (2008:128) juga mengatakan bahwa siswa mencapai berbagai belajar melalui pertukaran komunikasi dan kerjasama antar individu, mereka saling membantu dan bertukar pikiran untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan dalam kelompok yang terdiri dari 4-6 anggota.
Menurut Lie (2002:31) ada lima unsur dalam pembelajaran kooperatif, yaitu:
1)  Saling ketergantungan positif
2)  Tanggung jawab perseorangan
3)  Tatap muka
4)  Komunikasi antar kelompok
5)  Evaluasi proses kelompok
b.    Karakteristik Pembelajaran Kooperatif
Dasar pemikiran pembelajaran kooperatif adalah manusia memiliki derajat potensi, latar belakang historis, serta harapan masa depan yang berbeda-beda karena adanya perbedaan, manusia dapat silih asah (saling mencerdaskan). Pembelajaran kooperatif secara sadar menciptakan interaksi yang silih asah sehingga sumber belajar bagi siswa bukan hanya guru dan buku ajar tetapi juga sesama siswa. Dampak positif dari pembelajaran kooperatif adalah selain meningkatkan aspek kognitif juga meningkatkan aspek afektif  (Park dan Kim 2008:128).

Menurut Adesoji dan Ibraheem (2009:16) teknik pembelajaran kooperatif telah ditunjukkan untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa. Hal itu sesuai dengan pendapat Tatar dan Oktay (2008:67) penggunaan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan sikap dan aktivitas siswa terhadap pembelajaran. Attle dan Baker (2007:78) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif apabila dilaksanakan dengan baik dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Subratha (2007:145) juga mengatakan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan interaksi (aktivitas) dan hasil belajar siswa.

Aktivitas Belajar

Standard
   
Aktivitas siswa adalah sejumlah keterlibatan siswa selama kegiatan pembelajaran, sedangkan aktivitas guru adalah sejumlah kegiatan guru selama proses pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Proses pembelajaran akan bermakna apabila siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran karena aktivitas siswa sangat menentukan kualitas pembelajaran.
a.    Perlunya Aktivitas dalam Belajar
Sardiman (2010:96) memberikan petunjuk bahwa yang lebih banyak melakukan aktivitas di dalam pembentukan diri adalah siswa itu sendiri, sedang guru memberikan bimbingan dan merencanakan segala kegiatan yang akan diperbuat oleh siswa.


Pendapat Sardiman sangat jelas bahwa dalam kegiatan belajar siswa harus aktif  berbuat karena dalam belajar sangat diperlukan aktivitas, tanpa aktivitas proses belajar tidak mungkin berjalan dengan baik.
Nasution (2004:88) mengatakan pengajaran modern mengutamakan aktivitas siswa. Pembelajaran dapat memberikan hasil yang optimal apabila siswa mempunyai aktivitas yang tinggi dalam mengikuti pembelajaran, sedangkan guru bertindak sebagai fasilitator. Aktivitas siswa dalam pembelajaran merupakan keaktifan siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan baru dengan dilandasi pengetahuan awal yang telah dimilikinya.
Menurut Megawangi (2005:89) belajar dipahami melalui tiga hal, yaitu: 1) belajar merupakan sebuah proses konstruksi pengetahuan, bukan merupakan perekaman atau absorpsi pengetahuan; 2) ketika belajar, seseorang perlu menggunakan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya untuk mengkonstruksi pengetahuan baru; dan 3) belajar sangat dipengaruhi oleh situasi ketika proses belajar itu terjadi.
Berdasarkan pendapat di atas agar siswa dapat belajar secara optimal maka siswa perlu mengkonstruksi secara aktif terhadap pengetahuan baru yang ada dengan didukung pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dan situasi tempat berlangsungnya proses pembelajaran. Pengkonstruksian pengetahuan secara aktif dapat dilakukan dengan diskusi kelompok.

b.    Jenis-Jenis Aktivitas dalam Belajar
Sardiman (2010:101) menggolongkan aktivitas belajar dalam beberapa klasifikasi, antara lain:
1). Visual activities, seperti: membaca, memperhatikan gambar demons-
      trasi, percobaan, pekerjaan orang lain.
2). Oral activities, seperti: menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi.
3). Listening activities, seperti: mendengarkan uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato.
4). Writing activities, seperti: menulis cerita, karangan, laporan, angket, meyalin.
5). Drawing activities, seperti: menggambar, membuat grafik, peta, diagram.
6).  Motor activities, seperti: melakukan percobaan, membuat konstruksi, bermain, berkebun.
7). Mental activities, seperti: menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan.
8). Emotional activities, seperti: menaruh minat, bersemangat, bergairah, antusias, berani.

Aktivitas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah aktivitas siswa saat memperhatikan penjelasan guru, melakukan kegiatan kelompok, mengajukan pertanyaan, bekerjasama dengan teman dalam satu kelompok, menyiapkan alat pelajaran, memecahkan masalah dalam kelompok, menggali informasi, melakukan cara kerja pengamatan sesuai petunjuk, menyusun hasil pengamatan dalam bentuk laporan dan menyampaikan kesimpulan hasil pengamatan.

Pendidikan Karakter dan Budaya Bangsa

Standard
            Pendidikan Karakter dan Budaya Bangsa
Rutland (Hidayatullah: 2010) mengemukakan bahwa karakter berasal dari kata bahasa Latin yang berarti “dipahat”. Sebuah kehidupan, seperti blok granit yang berhati-hati dipahat ataupun dipukul secara sembarangan akhirnya akan menjadi sebuah mahakarya atau puing-puing yang rusak.
Hasan  (2010: 7) nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa diidentifikasi dari sumber-sumber berikut ini: (1) agama, (2) pancasila, (3) budaya, (4) tujuan pendidikan nasional. Berdasarkan keempat sumber nilai itu, teridentifikasi sejumlah nilai untuk pendidikan budaya dan karakter bangsa sebagai berikut ini. (1) religius, (2) jujur, (3) toleransi, (4) disiplin, (5) kerja keras, (6) kreatif, (7) mandiri, (8) demokratis, (9) rasa ingin tahu, (10) semangat kebangsaan, (11) cinta tanah air, (12) menghargai prestasi, (13) bersahabat/komuniktif, (14) cinta damai, (15)  gemar membaca, (16) peduli  lingkungan, (17) peduli sosial, (18) tanggung-jawab.
(1)   Karakter peduli lingkungan

Hasan (2010: 10) mendefinisikan peduli lingkungan adalah sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi. Volk (Erdogan, 2009: 17) envorimentally responsible behaviour included active and considered participation aimed at solving problem and resolving issues. Catagories of environmentally responsible action are persuasion, economic and consumer action, eco-management, political and legal action.

Efektivitas Pembelajaran

Standard
           
Efektivitas adalah kata yang sering didengar akan tetapi tidak memiliki patokan makna yang pasti dalam pengukurannya. Kata efektifitas banyak digunakan diberbagai bidang seperti pendidikan, usaha, kesehatan dan bidang kerja. Bidang pendidikan biasanya mengaitkan efektivitas dengan pembelajaran atau sering disebut sebagai efektivitas pembelajaran. Berikut ini akan berikan definisi efektifitas dari beberapa pakar.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002:584) mendefinisikan efektif dengan “ada efeknya (akibatnya, pengaruhnya, kesannya)” atau “dapat membawa hasil, berhasil guna (usaha, tindakan)” dan efektivitas diartikan “keadaan berpengaruh; hal berkesan” atau ” keberhasilan (usaha, tindakan)”.
Gie (1989:108) mendefinisikan efektivitas sebagai berikut. Suatu keadaan yang mengandung pengertian mengenai terjadinya efek atau akibat yang dikehendaki. Jika seseorang melakukan suatu perbuatan dengan maksud tertentu yang memang dikehendaki, maka orang itu dikatakan efektif kalau memang menimbulkan akibat dari yang dikehendakinya itu.
 Pengertian efektivitas di atas dapat diartikan bahwa efektivitas adalah suatu usaha yang dilakukan secara terus menerus untuk mencapai tujuan. Tujuan dari usaha tersebut adalah hasil yang diperoleh setiap melakukan kegiatan. kegiatan yang dilakukan adalah kegiatan yang direncanakan dan dikelola dengan baik sehingga menimbulkan dampak yang positif dan sesuai dengan tujuan yang telah direncanakan.
Definisi yang dikemukakan diatas adalah pengertian efektivitas secara umum. Efektivitas secara khusus juga digunakan dalam dunia pendidikan yaitu dengan istilah efektivitas pembelajaran. Penggunaan istilah dari efektivitas pembelajaran bertujauan untuk membengun pembelajaran yang efektif. Berikut adalah beberapa pengertian efektivitas pembelajaran.
Muhidin (2010) menyatakan pembelajaran dikatakan efektif apabila dalam proses pembelajaran setiap elemen berfungsi secara keseluruhan, peserta merasa senang, puas dengan hasil pembelajaran, membawa kesan, sarana/fasilitas memadai, materi dan metode affordable, guru profesional. Tinjauan utama efektivitas pembelajaran adalah outputnya, yaitu kompetensi peserta didik.

Efektivitas dapat dicapai apabila semua unsur dan komponen yang terdapat pada sistem pembelajaran berfungsi sesuai dengan tujuan dan sasaran yang ditetapkan. Efektivitas pembelajaran dapat dicapai apabila rancangan pada persiapan, implementasi, dan evaluasi dapat dijalankan sesuai prosedur serta sesuai dengan fungsinya masing-masing.