Friday, November 20, 2015

Pendekatan Pembelajaran SAVI

Standard
Pendekatan Pembelajaran SAVI
Belajar berdasarkan aktivitas berarti bergerak aktif secara fisik ketika belajar, dengan memanfaatkan indra sebanyak mungkin dan membuat seluruh tubuh/pikiran terlibat dalam proses pembelajaran. (Meier 2002:90). Belajar tidak akan berhasil jika hanya menyuruh siswa untuk membaca ataupun menulis saja. 
Pembelajaran yang baik dalam IPA adalah dengan menggunakan multi indra yang menekankan dan mengoptimalkan semua alat indra pada tubuh manusia. Seperti apa yang dikemukakan Howard Gardner dalam (Armstrong 2005:19) delapan kecerdasan dasar adalah
(1) Kecedasan linguistik (word smart),
(2) kecerdasan logis-matematis (numbering smart),
(3) kecerdasan spasial (picture smart),
(4) kecerdasan kinestetik (body smart),
(5) kecerdasan musikal (musical smart),
(6) kecerdasan antgar pribadi (people smart),
(7) kecerdasan intra pribadi (self smart),
(8) kecerdasan naturalis (naturalis smart). 

Dari pengelompokan kecerdasan di atas dapat diketahui bahwa pendekatan SAVI menerapkan 8 kecerdasan dasar karena pendekatan SAVI merupakan pembelajaran multi indra. pendekatan SAVI yang  merupakan akronim dari Somatic (bersifat Raga), Auditory (bersifat suara), Visualization (bersifat gambar), dan Intelektually (bersifat merenungkan). 

Pendekatan SETS dalam Pembelajaran

Standard
                        Pendekatan SETS dalam Pembelajaran
Kata SETS dapat dimaknakan sebagai sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat, merupakan satu kesatuan yang dalam konsep pendidikan mempunyai implementasi agar anak didik mempunyai kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking). Pendidikan SETS dapat diawali dengan konsep-konsep yang sederhana yang terdapat di lingkungan sekitar kehidupan sehari-hari peserta didik atau konsep-konsep rumit sains maupun non sains.

Binadja (1999:2) menyatakan dalam konteks pendidikan SETS, urutan ringkasan SETS membawa pesan bahwa untuk menggunakan sains (S-pertama) ke bentuk teknologi (T) dalam  memenuhi kebutuhan masyarakat (S-kedua) diperlukan pemikiran tentang berbagai implikasinya pada lingkungan (E) secara fisik maupun mental. Secara tidak langsung, hal ini menunjukan arah pendidikan SETS yang juga memuat unsur-unsur SETS dalam lingkungan (E).
Implikasi visi SETS. Praksis pembelajaran bervisi dan berpendekatan SETS itu bila dilaksanakan dengan sungguh-sungguh tentu akan memberi keuntungan bagi berbagai pihak, para peserta didik itu sendiri, pendidik, dan masyarakat (Binadja, 2006). Lebih jauh visi dan pendekatan SETS itu memungkinkan penjagaan pada nilai-nilai positif pendidikan, agama, dan budaya.

Tujuan pembelajaran IPA SD menurut peraturan Mendiknas

Standard
2.1.1     Hakekat IPA
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sebagai disiplin ilmu dan penerapan dalam masyarakat membuat pendidikan IPA menjadi penting, tetapi pengajaran IPA yang bagaimana yang paling tepat untuk anak-anak?. Oleh karena struktur kognitif anak-anak tidak bisa dibandingkan dengan ilmuwan, padahal mereka perlu diberikan kesempatan untuk berlatih ketrampilan-ketrampilan proses IPA yang perlu dimodifikasi sesuai dengan tahap perkembangan kognitifnya.
Tujuan pembelajaran IPA SD menurut peraturan Mendiknas (2006:487) menjelaskan tentang tujuan sebagai berikut : (1) memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya, (2)  mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA bermanfaat dan dapat diterima dalam kehidupan sehari-hari, (3)  mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat, (4) mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan, (5) meningkatkan kesadaran untuk berperanserta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan, f. meningkatkan kesadaran untuk menghargaio alam dan segala keteraturan sebagai sebagai salah satu ciptaan Tuhan, Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjudkan pendidikan ke SMP/MTs.

Ruang Lingkup pembelajaran IPA yang terdapat dalam peraturan Mendiknas (2006:487) mengemukakan, mata pembelajaran IPA meliputi aspek-aspek sebagai berikut : a. makhluk hidup dan proses kehidupan, yaitu manusia, hewan, tumbuhan dan interaksinya dengan lingkungan, serta kesehatan, b. Benda/materi, sifat-sifat dan kegunaannya, meliputi: cair, padat dan gas, c. energi dan perubahannya, meliputi: gaya, bunyi, panas, magnet, listrik, cahaya dan pesawat sederhana, d bumi dan alam semesta, meliputi: tanah, bumi, tata surya, dan benda-benda langit lainnya.

Teori Belajar David Ausubel

Standard
1.    Teori Belajar David Ausubel
 Ausubel (Dahar, 2011: 94) mengklasifikasikan belajar kedalam dua dimensi. Dimensi yang pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran yang disajikan pada peserta didik melalui penerimaan atau pertemuan. Dimensi kedua menyangkut cara bagaimana peserta didik dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada. Struktur kognitif ialah fakta, konsep dan generalisasi yang telah dipelajari dan diingat oleh peserta didik.

Ausubel (Dahar, 2010: 100) The most important single faktor influencing learning is what the learner already knows. Ascertain this and teach him accordingly. Inti dari teori belajar Ausubel adalah mempersiapkan peserta didik dalam belajar. Langkah – langkah belajar bermakna Ausubel adalah: (1) Pengatur Awal (Advance Organizer). Pengatur awal dapat digunakan untuk membantu mengaitkan konsep yang lama dengan konsep yang baru yang lebih tinggi maknanya. (2) Diferensiasi Progregsif. Pembelajaran bermakna perlu ada pengembangan dan kolaborasi konsep-konsep. Caranya unsur yang inklusif diperkenalkan terlebih dahulu kemudian baru lebih mendetail. (3) Belajar Superordinat terjadi bila konsep-konsep yang telah dipelajari sebelumnya dikenal sebagai unsur-unsur suatu konsep yang lebih luas, lebih inklusif. (4) Penyesuaian Integratif yaitu dengan menghubungkan konsep-konsep yang dipelajari dengan konsep yang ada pada tahap superordinat. Untuk mencapai penyesuaian integrative materi pelajaran hendaknya disusun sedemikian rupa hingga kita mengerakan hierarki-hierarki konseptual ke atas dan ke bawah selama informasi disajikan.

Teori belajar Piaget

Standard
       1.    Teori Piaget
Teori belajar Piaget adalah teori belajar tentang perkembangan kognitif. Perkembangan kognitif manusia dimulai sejak masa bayi hingga dewasa. Manusia memiliki perkembangan kognitif yang hampir sama. Otak manusia mengalami proses perkembangan seorang bayi yang baru lahir mempunyai otak yang belum sempurna susunannya baik struktur maupun fungsinya. Pertumbuhan dan perkembangan memerlukan tahapan-tahapan waktu untuk menjadi seorang yang dewasa.
Sugihartono (2007: 108) membagi tahapan berpikir individu menurut Piaget melalui empat tahap yaitu: (1) sensorimotik (0-2 tahun, (2) praoperasional (2-7 tahun), (3) operasional konkrit (7-11 tahun), dan operasional formal (12-15 tahun keatas).  Amien (1987: 46) Piaget percaya bahwa ada empat faktor utama yang menjunjung mental anak, yaitu (1) maturation, (2) physical experience, (3) social experience, dan (4) equilibration. Piaget membagi equilibration menjadi dua tahap yaitu (a) assimilation (asimilasi) yaitu mengambil dan menerima informasi-informasi dari lingkungannya dan mengabungkannya kedalam bagan-bagan konsep atau struktur. (b) accommodation (akomodasi) adalah proses mengubah bagan-bagan konsep atau struktur yang menerima bahan atau informasi baru.

Penerapan teori Piaget dalam pembelajaran IPA bervisi SETS dengan pendekatan SAVI adalah: (1) proses pembelajaran dengan pengalaman langsung secara fisik (hands-on) sesuai dengan tahap operasional konkrit, (2) pembelajaran dengan interaksi sosial sebagi wujud pembelajaran yang menerapkan unsur society dalam visi SETS, (3) pembelajaran menggunakan multi media sebagi penerapan unsur somatic, auditory, visualization dan intellectually untuk membantu proses equilibration pada tahap assimilation dan accommodation.

Teori Belajar

Standard
                    Teori Belajar
Snelbecker (Dahar, 2011:12) mendefinisikan teori berarti sejumlah proposisi yang terintegerasi secara sintaktik (artinya kumpulan proposisi mengikuti aturan-aturan tertentu yang dapat menghubungkan secara logis proposisi proposisi yang satu dengan proposisi yang lain, dan juga pada data yang diamati), serta yang digunakan untuk memprediksi dan menjelaskan peristiwa-peristiwa yang diamati.

Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Belajar merupakan proses dimana suatu organisme mengubah perilakunya karena hasil dari pengalaman (Anni 2004:2).  Geoch (Hamdani, 2010: 21) mengatakan learning is a change in performance as a result of practice  (belajar adalah perubahan dalam penampilan sebagai hasil praktik). 

Friday, November 6, 2015

Simposium guru 2015

Standard
mohon dukungan nya dengan memberikan tanda bintang pada kegiatan simposium guru 2015
http://simposiumguru2015.kemdikbud.go.id/

caranya
1. Klik web diatas,setelah itu klik "DAFTAR", setelah terdaftar kemudian
2. Log In dengan nama dan password yang dimiliki
3. Pada bagian halaman depan cari peserta atas nama "Rhendi Van Pasaribu"
4. setelah muncul nama peserta, klik bagian "Bintang"
5.Terimakasih atas dukungannya..#Sebarkan